Saya mengenal akupunktur ketika berada di ujung rasa frustrasi karena berbagai penyakit yang mengeram dalam tubuh. Sejak tahun 2002 saya divonis harus operasi angkat kandung empedu karena penuh dengan batu. Tahun 2004 lengan kiri pun secara pelan-pelan menuju ke arah kelumpuhan, saat-saat yang penuh siksaan karena di malam hari saya seringkali menjadi terbangun oleh lengan kiri yang menjadi dingin, sedingin lengan mayat, karena kekurangan aliran darah. Belum lagi jantung yang juga mpot-mpotan, kadang-kadang hilang detaknya untuk sepersekian detik selama kurang lebih 1 jam. Juga migrain yang setia menemani setiap hari dengan variasi yang minim, ‘menyiksa’ atau ’sangat menyiksa’. He..he..
Sesi pertama akupunktur yang saya jalani langsung membuahkan hasil yang nyata. Lengan kiri saya mulai terasa hangat kembali. Dalam beberapa puluh sesi berikutnya lengan tersebut terus makin membaik. Saya sungguh sangat takjub dengan hasil ini karena sebelumnya kedokteran Barat sudah angkat tangan, tidak ada solusinya. Dan sebenarnya saya pun sudah ikhlas untuk menerima kelumpuhan tersebut. Tapi sungguh tidak disangka bahwa jarum-jarum imut itu membawa keajaiban. Dengan berbagai penyakit yang saya idap tersebut, honestly I can say this: tanpa akupunktur, mungkin saya sudah out. Tapi ternyata ijin tinggal saya di muka bumi ini diperpanjang lagi. He..he..
Keharusan ngantri setiap kali akan terapi akupunktur membuat saya gemas dan sangat ingin bisa menusuk diri sendiri. “Andai saja saya bisa akupunktur…” Dan begitulah, ternyata doa ini tak lama kemudian terkabul, saya beneran mendapatkan kesempatan untuk belajar akupunktur. Mborong buku-buku akupunktur dari USA pun saya lakukan meskipun ini menguras uang saya habis-habisan. Makin dipelajari, makin menarik. Dan makin hari, ternyata makin banyak keajaiban yang terkuak.
Belajar akupunktur yang tadinya saya niatkan untuk diaplikasikan ke diri sendiri pun ternyata tak berjalan seperti yang direncanakan. Ada banyak teman dan kerabat yang minta tolong. Masak nggak ditolong? Akhirnya, ‘terpaksa’-lah terjun lebih dalam lagi ke dunia akupunktur. Ikut ujian kompetensi akupunktur yang diselenggarakan PAKSI dan Depdiknas dengan nilai akhir yang yahud.. hehe.. nyaris cumlaude. Mengurus semua yang diperlukan sehingga Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT) dari Dinas Kesehatan Kota Bandung akhirnya dapat saya peroleh.
Ini benar-benar sesuatu yang di luar perkiraan saya. Latar belakang pendidikan saya adalah Teknik Elektro. Jadi akupunkturis? Pelayan kesehatan? Hehe.. Yang bener saja. Tapi mungkin memang begitulah hidup, selalu membawa kita ke tempat-tempat yang tak disangka sebelumnya. Dan ternyata saya pun sangat menikmati sesi-sesi terapi tersebut. Menyaksikan wajah-wajah yang bercahaya penuh syukur, melihat tumbuhnya kembali harapan yang sebelumnya seakan sirna, adalah kebahagiaan yang teramat sangat bagi saya. It’s really a bless. Sungguh disayangkan karena banyak sekali orang yang tidak mengenal akupunktur. Andai saja mereka tahu…
Pemikiran itulah yang akhirnya mendorong saya membuat blog ini. Dengan berbekal majalah terbitan tahun lalu tentang per-blog-an, saya pun mulai dari nol. Tanya sana-tanya sini… akhirnya jadilah Blog Bandung Acupuncture. Saya beri nama Bandung Acupuncture (bukan Akupunktur Bandung), karena tadinya niatnya sih saya ingin menulis dalam bahasa Inggris juga. Tapi ternyata sampai dengan saat ini kok susah nyari waktu lowongnya. Ya sudah, segini pun oke-lah… Yang penting, maju terus akupunktur Indonesia. Maju terus akupunktur Bandung.
Semoga kita semua selalu diberkahi kesehatan dan kesejahteraan.
Bandung, April 2008
Salam,
Tyas
Akupunktur yang notabene merupakan pengobatan Timur kini berkembang dengan pesatnya di Barat. Bagaimana dengan kita yang orang Timur ini? Sayang sekali bahwa masyarakat Indonesia umumnya tidak begitu familiar dengan akupunktur. Padahal, seperti kata pepatah, ”tak kenal maka tak sayang”. Mudah-mudahan Bandung Acupuncture bisa menjadi wahana pemasyarakatan akupunktur di Bandung khususnya, dan di Indonesia umumnya.

lah mbak. bukan di google. cari alamat klinik acp di bandung mah. liat aja di situs depkes bandung. disitu kamu juga bisa liat alamat rumahnya.
Terimakasih. Benar, bisa juga dari situ.
Mbak Tyas, kalo saya mau kursus akupunktur dimana ya? Adakah no telp atau alamat yang bisa saya hubungi? Terima kasih ya mbak.
Mohon ma’af, di-google aja ya Pak/Mas… saya merasa nggak enak kalau menyebutkan nama lembaga pendidikan tertentu.
mbak tyas,,, gimana kabar???
masih ingat aku,,,,
kalo akkupuntur supaya kurus,,, bisa nggak??
Hai Teguh… ingat kok… hehehe
Kalo bawaannya emang bertubuh besar seperti Teguh gitu sih ya rada susah… mau dikecilin gimana kalo cetakannya emang sudah begitu. Terkecuali kalo bukan bawaan, maka berat tubuh bisa dikendalikan dengan mengoptimalkan metabolisme tubuh.
Begitu kira-kira prosesnya.
mbak tyas,,, aku dikasih no hape ya…
nie hapeku 0811xxxxxxx
ditunggu ya,,,
mau konsul masalah kegemukan
Waaaa… jangan sembarangan nulis nomor HP di internet. Berbahaya loh…
By the way, kalo mau konsultasi di sini aja, biar diskusinya juga bisa dimanfaatkan orang lain.
Pake nama samaran saja, biar ga malu… hihi. Okeh… ditunggu deh…
Hai mbak Tyas, salam kenal ….
Aku juga penggemar akupunktur seperti ayahku yang pernah kursus di Indrapura 17 Surabaya. Memang belum profesional seperti beliau yang udah buka Klinik dan Pendidikan di Mojokerto melalui Yayasan Terapi Zona. Tapi sebagai seorang ibu rumah tangga rasanya sia sia kalo waktu luang ini tak kugunakan untuk belajar. Beruntungnya punya ayah dosen, jadi aku ditinggali sesuatu untuk terus dipelajari yaitu akupunktur. Nemu blog ini bikin wawasanku yang semula hanya dari buku, jadi lebih terbuka lebar. Makasih yah atas artikelnya….berguna banget buat aku yang ngrintis jadi akupunkturis.
Regard,
Annakrida80.blogspot.com
Hai juga bu Anna…
Terimakasih atas kunjungannya ke blog Bandung Acupuncture. Kalau buat saya pribadi, akupunktur merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup saya. Jadi tentu saja saya senang kalau mendengar makin banyak peminat akupunktur. Belakangan ini saya tidak sempat menulis artikel baru, tapi mudah-mudahan nanti ada waktu deh supaya blog-nya makin seru.
Semoga bu Anna sukses yah…
aku acungkan jempol buat tyas.
lama gak ketemu ternyata sampeyan punya cerita yang luar biasa.
aku pernah mau belajar acupuntur dari seorang dokter umum yang jago acupuntur, bekam dll.
belum terlaksana belajarnya sang dokter dapat panggilan untuk merawat ibundanya di lampung. jadi pupus sudah.
dengan kecerdasan yg tyas punyai, aku percaya tyas akan bisa lebih maju lagi. sukses…..
Ya sudah, baca saja disini.
Meskipun sedikit kan lumayan, daripada tidak sama sekali.
Terus terang saja, menemukan akupunktur merupakan salah satu anugerah terbesar dalam perjalanan hidupku.
Salam buat keluarga dan temen-temen di Turen yah…
temppat klinik akupuntur di bandung dmn yh??
minta alamatnya donk…please
Waduh, maaf nih saya nggak bisa ngasih rekomendasi klinik akupunktur tertentu, nanti nggak enak dengan yang lainnya. Di-google saja yah… Mudah-mudahan ketemu.
@ Krisna
Terimakasih atas kunjungannya ke Bandung Acupuncture ya…
Harganya ada yang $16, ada juga yang $105. Untuk buku import, kita harus memperhitungkan biaya shipping, cukai dan pajak yang akan dikenakan begitu buku masuk ke Indonesia.
Untuk tempat kursus, he..he.., di-google aja deh. Maaf nih, untuk menjaga hubungan baik dengan semua pihak, saya tidak bisa ngasih rekomendasi tertentu.
Untuk buku-buku akupunktur, saya beli langsung melalui internet di Amazon.com. Belinya pakai kartu kredit. Tinggal klik, langsung dikirim. Simple and easy. Harganya macam-macam. Buku saya ada puluhan jumlahnya nih.
Demikian informasi dari saya. Semoga pertanyaannya terjawab yah…
Mbak Tyas, saya Krisna, dokter yang baru lulus dari fak. kedokteran universitas hasanuddin makassar.saya sangat tertarik dengan pengobatan timur, khususnya akupuntur. Saya ingin mempelajari akupuntur melalui kursus. Kalo boleh mbak mengirimkan tempat-tempat kursus di jawa, terutama bandung dan jakarta, yang memiliki kredibilitas tinggi kepada saya.
Saya juga tertarik dengan buku2 yang mbak baca tentang akupuntur, sekalian mau tanya tentang cara mendapatkan buku2 tersebut dan harganya kira2 berapa.
terima kasih sebelumnya untuk semua jawaban dari mbak, saya merasa sangat2 terbantu dengan blog yang mbak buat.
@ yat
Hi juga…
Rasa sakit yang ada di daerah bekas tusukan atau di sekitarnya bisa disebabkan karena tubuh sedang berusaha menyesuaikan terhadap perubahan energi yang tengah terjadi. It’s probably very normal and you have nothing to be worried about. Tunggu saja selama beberapa hari (up to 2 weeks). However, if after two weeks you find no improvement at all, konsultasikan kembali mengenai hal ini ke akupunkturis Anda ya…
Semoga berhasil!
hi tyas…
sy yat dr Kuala lumpur..sy baru saja buat akupunture selama 2kali kerana sakit belakang.
kali pertama tu sy tidak rasa sakit tapi pada kali kedua, iaitu semalam sy merasa begitu sakit sekali…sakit bukan saja ditempat yg dicucuk tapi sakit disekitar kawasan yg dicucuk.
sy mahu tanya kenapa pekara ni terjadi.
Yerima kasih.